Mental Health Generasi Z

Mental Health Generasi Z

 

Generasi saat ini lebih dibilang dengan julukan generasi Z yang merupakan generasi yang paling muda yang baru memasuki angkatan kerja. Generasi ini biasanya disebut dengan generasi internet atau Igeneration. Generasi Z lebih banyak berhubungan sosial lewat dunia maya. Sejak kecil, generasi ini sudah banyak dikenalkan oleh teknologi dan sangat akrab dengan smartphone dan dikategorikan sebagai generasi yang kreatif. Ciri atau Karakteristik dari generasi Z itu lebih menyukai kegiatan sosial dibandingkan generasi sebelumnya, lebih suka di perusahaan start up, multi tasking, sangat menyukai teknologi dan ahli dalam mengoperasikan teknologi tersebut, peduli terhadap lingkungan, mudah terpengaruh terhadap lingkungan mengenai produk.

 

Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. WHO menyebutkan, anak muda alias generasi milenial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Kesehatan mental merupakan sektor penting dalam mewujudkan kesehatan secara menyeluruh. Gangguan mental jika tidak ditangani dengan tepat, akan bertambah parah, dan akhirnya dapat membebani keluarga, masyarakat, serta pemerintah.

 

Jadi bisa dibilang hampir setiap harinya generasi Z bergantung pada teknologi. Yang mana kita tahu semakin canggihnya teknologi, apapun bisa diwujudkan. Semakin banyak fitur-fitur yang bebas dimanfaatkan oleh para generasi Z, khusunya pada aplikasi sosial media. Kini segalanya bisa diakses di sosial media, tidak ada pembatas bagi mereka untuk berkomentar dan berpendapat soal isu-isu hangat yang sangat cepat terakses oleh mereka dengan kecanggihan teknologi pada sosial media. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, media sosial hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Di satu sisi keberadaan media sosial dapat membantu remaja mengembangkan keterampilan komunikasi, berteman, mengejar bidang minat, dan berbagi pemikiran dan ide. Namun di sisi yang lain, media sosial memiliki dampak negatif pada remaja termasuk risiko penyakit mental. National Institute of Mental Health melaporkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada emaja atau generasi Z saat ini.

 

Upaya untuk mencegah dampak negatif dari penggunaan media sosial oleh remaja dimulai dengan mendidik remaja tentang bahaya yang diberikan oleh media sosial. Salah satu cara paling efektif lainnya adalah memastikan penggunaan media sosial remaja memiliki dampak positif pada kehidupan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology menemukan bahwa mahasiswa sarjana yang membatasi waktu mereka di Facebook, Instagram, dan SnapChat, hingga 10 menit setiap hari atau total 30 menit penggunaan untuk semua media sosial umumnya memiliki citra diri yang lebih positif. Jadi dapat kita temukan salah satu upaya kecil untuk meningkatan mood yang mengurangi tingkat depresi, menciptakan meltal health pada diri kita bisa dilakukan dengan mengurangi atau membatasi waktu mereka dalam bersosial media. Selain itu tak luput dari peran orang tua yang sangat penting. Orang tua sebagai orang terdekatnya harus bisa membimbing, mengedukasi anaknya mana yang baik dan mana yang buruk, dan turut mengawasinya dalam aktivitas bersosial media. Jangan sampai para orangtua lebih banyak menghabiskan waktu di gadget dan jarang mengajak anaknya terlibat dalam aktivitas di dunia nyata, maka anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia online.

Comments

Popular posts from this blog